THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES
Ao~..... Minna hajimemashite \^o^/ Hope it will be useful for our live ^^
Tampilkan postingan dengan label Philosophy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Philosophy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Januari 31, 2009

EMPAT ISTRI

Suatu ketika ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat istri. Dia mencintai istri ke-4 dan menganugrahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik diantara semua istrinya.

Pria ini juga mencintai istrinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang isteri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita canyik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain. Begitu juga dengan istri ke-2. sang pedagang sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian.

Kapan pun pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan istri ke-2nya ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan iistri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami.

Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu saying kepadanya. Suatu hari sang pedagang sakit dan ia menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati , “saat ini aku punya empat istri, namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan”

ISTRI KE-4: NO WAY

Lalu pedagang itu memanggil semua istrinya dan bertanya pada istri ke-4nya. Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku ?” Ia terdiam ….. tentu saja tidak ! Jawab istri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau yang terhunus dan dan mengiris-iris hatinya.

ISTRI KE-3 : MENIKAH LAGI.

Pedagang itu sedih lalu bertanya pada istri yang ke-3. “Akupun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani sampai akhir hayatku ?” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini, Aku akan menikah lagi jika kau mati”. Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.

ISTRI KE-2 : SAMPAI LIANG KUBUR

Kemudian ia memanggil istri ke-2. “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalu aku mati maukah kau mendampingiku ?” Jawab sang istri, maafkan aku kali ini tak bisa menolongmu. Aku hanya bias mengantarmu sampai ke liang kubur. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu”.

ISTERI PERTAMA : SETIA BERSAMA SUAMI

Pedagang ini putus asa. Dalam kondisi itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi.

Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu. Pria itu lalu menoleh kesamping dan mendapati istri pertamanya disana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bias merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan aku biarkan engkau kurus seperti itu, istriku’

HIDUP KITA DIWARNAI EMPAT ISTRI

Sesungguhnya, kita punya empat istri dalam hidup ini

Istri ke-4 adalah adalah TUBUH kita .

Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap kepada-Nya.

Istri ke-3 adalah STATUS SOSIAL DAN KEKAYAAN.

Saat kita meninggal, semuanya kan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejapketika kita tiada.

Sedangkan istri ke-2 yakni KERABAT DAN TEMAN.

Seberapapun dekatnya hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

Dan sesungguhnya istri pertama kita adalah JIWA DAN AMAL KITA.

Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemanapun kita melangkah. Hanya amallah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

JADI SELAGI MAMPU, PERLAKUKANLAH JIWA KITA DENGAN BIJAK SERTA JANGAN PERNAH MALU UNTUK BERBUAT AMAL, MEMBERIKAN PERTOLONGAN KEPADA SESAMA YANG MEMBUTUHKAN. BETAPAPUN KECILNYA BANTUAN KITA PEMBERIAN KITA MENJADI SANGAT BERARTI BAGI MEREKA YANG MEMERLUKANYA.

MARI KITA BELAJAR MEMPERLAKUKAN JIWA DAN AMAL KITA DENGAN BIJAK.


Diadopsi (Anak kale,,^_^..) dari Lin2Suliz

Kamis, Januari 29, 2009

Pohon Apel Dan Anak Kecil

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang ……. tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.

Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar ?”

“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”

Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.

“Maaf, anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” Jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” Kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Ini adalah cerita tentang manusia. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara manusia memperlakukan orang tua.

My Mood


Cute Purple Flying Butterfly


 
Copyright© All Rights Reserved ukhovi.blogspot.com